Saturday, August 27, 2011

Kisahku Bersama SARUNG Suamiku

Ngomong soal sarung, hanya sarung cap 'Gajah Duduk' yang saya tahu. Padahal ada banyak merk sarung yang mutunya tak kalah bagus dari Gajah Duduk. Salah satunya yaitu Sarung Samarinda. Sarung ini merupakan satu kerajinan yang dihasilkan oleh warga di sekitar Gang Pertenunan, Kelurahan Mesjid,
Samarinda, Kalimantan Timur. Pantas saja saya ga kenal, lha wong tahunya Samarinda saja hanya di peta. Itu pun waktu saya masih sekolah. Hikz


Kemasyhuran sarung Samarinda ini juga sampai ke kalangan pejabat tinggi negara, termasuk Sukarno-Hatta. Bahkan ada motif tertentu yang paling disukai oleh Pak Hatta. Sampai-sampai motif tersebut diberi nama ‘belang Hatta’.  Selain motif ‘belang Hatta’, masih ada berbagai macam motif dan warna lainnya yang mungkin lebih sesuai dengan selera anda. Ada juga yang berbahan sutera dari china yang pastinya lebih mahal dibanding  sarung yang biasa.

Sarung Samarinda ini ditenun dengan menggunakan alat tenun yang terbuat dari kayu dengan ukuran yang besar dan ada pula yang berukuran kecil. Namun saat ini banyak bermunculan sarung Samarinda palsu yang tentunya diragukan keasliannya karena dibuat oleh mesin bukan oleh pengrajin aslinya. Bagi anda yang berminat membeli Sarung Samarinda asli, silahkan berkunjung KE SINI untuk mendapatkan keterangan lebih lengkap. hehe

Masih ngomong seputar sarung ini yach.... ada beberapa kisah dan hikmah yang tersembunyi dibalik sarung yang akan saya ceritakan disini demi mendapatkan sebuah Sarung Samarinda dari Kaka Akin yang saat ini sedang merayakan miladnya (ga tahu yang keberapa). hihihi.

Yang pertama, 
Dulu, mantan pacar saya (sekarang suami) datang pertama kali ke rumah saya pakai sarung. Aneh memang, tapi sarungnya itu telah memberi kesan baik dimata saya serta keluarga saya.  Sok alim gitu lho hehe

Yang kedua, 
Menjelang pernikahan kami, orang tua saya memberi hadiah sarung kepada suami saya. Dengan tujuan agar suami saya rajin beribadah dan mampu menjadi imam bagi saya. Meskipun saya belum sempat melihat suami saya memakainya. Namun saya salut sama orang tua saya, yang memberi hadiah sederhana dan murah namun penuh makna.

Yang ketiga,
Saat kami ijab siri ke rumah pak kyai di nganjuk, suami saya hanya memakai sarung dan hem putih. Sangat sederhana sekali bukan? Tapi dibalik pakaian sederhananya itu ada harapan agar rumah tangga kami bisa tetap langgeng meskipun harus hidup dengan kesederhanaan.

Saat ijab siri di depan pak Kyai

Yang ke empat,
Ada kebiasaan aneh saat kami jadi pengantin baru. Yaitu tidur berselimutkan 1 sarung (Lho?). Iya, kami berdua masuk dalam satu sarung. Padahal ada selimut lebar tapi milih sarung yang sempit. Dan saat itu saya bisa merasakan damai tidur dalam pelukan kekasih halal saya. Upps termasuk pornoaksi ga ya? Xixixi

Dan yang terakhir, 
Saya yang harus terpisah jauh dengan suami tercinta. Terasa belum lengkap kalau tidur tanpa sarung suami saya. Sarung yang saya bawa sejak tahun 2005 (waktu itu belum nikah), sampai sekarang masih setia menemani saya. Sekarang ini lagi musim panas, kalau tidur saya buka kipas angin tapi tetap masuk dalam sarung. Sampai-sampai majikan perempuan saya bilang "wah panas gini pakai selimut??".  Hikz

Kalau musim dingin tiba, meskipun dinginnya 10℃ lebih tapi tubuh saya akan terasa hangat ketika  berselimutkan sarung suami saya ini baru berselimut yang tebal. Dulu sebelum saya bawa sarung suami saya, ketika musim dingin tiba saya sering susah tidur karena hawa dingin. Tapi sekarang ga pernah lagi.  Meskipun jarak memisahkan kami, tapi hangatnya pelukan suami saya  tetap saya rasakan melalui sarungnya. (nggombal euy haha).

“Tulisan ini disertakan pada giveaway Berbagi Cerita Tentang Sarung yang diadakan oleh Kaka Akin”. Yang berminat silahkan langsung ke TKP. hehe.

13 comments:

  1. wah mbak ceritanya kayak dilagu2 dangdut,sarung yang kau pinjamkan itu....wkwkwk hemm emang tentunya barang yang pernah diberikan oleh orang yang kita sayangi sulit buat dilupain,walaupun menurut orang lain itu gak berharga

    ReplyDelete
  2. terpisah jauh,,Aishiteru dunk mbak,, oh ya sejak 2005 sampe skrg itu tetep ada ketemunya juga kan mbak,,

    ReplyDelete
  3. sarung jadi bener2 bersejarah dan punya cerita khusus ya mbak :D
    cieee ada yg lagi rindu berat nih :)

    ReplyDelete
  4. sebentar lagi bisa sarungan berdua lagi dong hehehe

    ReplyDelete
  5. Randy@ haha masa iya ada lagu tentang sarung.
    Barang berharga yg tak bs dinilai dgn uang xixixi

    Alkahfi@ ya pernah donk, tahun 2008 kami nikah hehe

    Mbak lidya@ hihihi masih lama mbak, 2 bulan serasa 2 thn

    Fiction's world@ sarung lg sarung lg hehe

    ReplyDelete
  6. karena sarungnya masih ada bau2nya suami gitu kan.... he..he..

    ReplyDelete
  7. Terpisah dan menikah... Oow.. Sarung.. xixixi...

    .Nikah usi berapa Mbak??..
    wkwkwkwk

    ReplyDelete
  8. penghulunya mirip kayak orang arab, mbak. hehhehe

    ReplyDelete
  9. pakai sarung bareng suami apa ga merasa sempit? he he

    ReplyDelete
  10. Monda@ bau keringet ama bau
    iler kali ya hehe

    Hasyim@pisah-nikah-pisah lg.
    Hehe,
    umurnya udah seperempat abab
    br nikah hehe

    nuel@ pakaiannya aja yg kaya
    orang arab hehe

    R10@ iya ya, apa ga sempit ya!
    Tp kok ya nekad ya. Hihi

    ReplyDelete
  11. salam buat suaminya mba ^__^, beruntung punya istri seperti anda ...
    semoga menjadi sakinah mawaddah warrahmah

    ReplyDelete
  12. Ehm...ehm... Kisahnya seru banget nih...
    Terkadang orang yang pake sarung itu kesannya tawadhu gitu ya... :D

    Terima kasih sudah ikutan "Berbagi Cerita Tentang Sarung"
    Sudah saya catat sebagai peserta.

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...