Monday, March 3, 2014

Embahku Tukang Batu

Embah menjadi seorang janda ketika kedua anaknya masih kecil. Setelah kepergian mbah kung, embah memilih menjadi single parent. Bukan tugas mudah tentunya karena Mbah Kung tidak meninggalkan warisan apa-apa selain rumah atau lebih tepatnya gubuk reyot berukuran 5m x 4m dan sebidang tanah yang tidak cocok untuk berkebun maupun bertani.

Tapi Allah maha pemurah, Allah menyediakan sungai penuh pasir dan bebatuan yang bisa dimanfaatkan penduduk sekitar sungai, termasuk embah sebagai tempat untuk mengais rejeki. Sebagian orang mencari pasir dan sebagian lagi mencari batu yang kemudian dipukul menjadi berbagai ukuran. Kalau sudah terkumpul, ada truck yang mengambilnya. Hasilnya lumayan, bisa untuk membiayai hidup.



Sampai akhirnya kedua anak embah tumbuh dewasa, kemudian menikah dan punya cucu. Saya cucu ke tiga embah yang paling merepotkan. Gara-gara saya benci sama adik yang baru lahir, embah harus susah payah mengasuh saya dari pagi sampai sore.

Suatu hari, saat menggendong saya, tiba-tiba embah terjatuh dan kakinya terkilir. Mulai saat itu, embah tidak bisa berjalan normal lagi, embah pincang. Meskipun pincang, embah tetap semangat mengais rejeki di sungai untuk membiayai hidupnya sendiri. Kebetulan, keadaan ekonomi kedua anaknya juga pas-pasan jadi tidak bisa membantu.

Sampai akhirnya, saya beranjak kanak-kanak. Bapak dan emakpun mengikuti jejak embah, mengais rejeki di sungai. Bapak mencari pasir, sedangkan emak jadi tukang pukul batu. Saya ingat, pulang sekolah saya dan adik pergi ke sungai nyusul emak. Emak sudah bawain kami makan dan juga baju ganti. Sambil menunggu emak menyelesaikan pekerjaannya kami bermain sendiri.

Banyak yang tidak saya ingat tentang masa kanak-kanak saya. Tapi menurut cerita emak, keluarga kami sering jadi hinaan keluarga atau orang yang lebih mampu. Tapi berkat usaha keras emak dan juga bapak perekonomian keluarga kami mulai membaik.

Sedangkan embah..... awalnya tetap bertahan di rumah reyotnya dan masih menjadi tukang pukul batu. Setiap hari mencari batu kemudian di bawa pulang dan dipukuli di rumah. Kami sudah berusaha membujuknya agar tinggal bersama kami dan  berhenti mencari batu, karena jalan dari sungai agak menanjak. Tapi bujukan kami tidak di gubris.

Tapi berkat kecerdikan adik, akhirnya embah mau tinggal bersama kami. Adik bilang kalau rumahnya mau di perbaiki, tapi setelah rumah roboh kami sengaja tidak memperbaikinya. Embah sempat marah-marah dan setiap hari minta agar rumahnya dibangun lagi, tapi kami tidak menggubrisnya. Akhirnya, dengan terpaksa embah mau tinggal bersama kami. Tapi siangnya embah pulang ke bekas rumahnya dan masih melakukan aktivitasnya yang dulu, mencari batu di sungai kemudian memukulnya.

Mengenang 2 tahun kepergian embah.

Waktu terus berlalu, usia embah semakin bertambah, tubuhpun semakin renta, dan akhirnya pikun. Tak ada yang beliau ingat selain bapak dan emak. Karena hanya mereka yang merawat beliau setiap hari. Kebetulan saya masih di Hong Kong jadi banyak waktu yang terlewatkan bersama embah.

Tapi ada kebahagiaan tersendiri bagi saya karena saya masih diberi kesempatan menikmati hari bersama embah meskipun hanya 3 bulanan. Saat itu embah sudah tidak bisa berjalan lagi, tapi di halaman samping rumah kami, ada setumpuk batu kecil hasil karya embah waktu masih sehat. Ach.... embah memang tukang pukul batu sejati. Saat pikunpun, beliau tetap ingat cara memukul batu.

Dan Tgl 28 februari 2012 Embah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya di usia 90an. Dan saya bisa mengantarkan embah ke peristirahatan terakhirnya. Semoga embah mendapatkan tempat terbaik disisi ALLAH. Amin.....

**** Sekarang ini, sudah banyak perusahan penggilingan batu sehingga tidak ada lagi yang mengambil batu dari sungai tersebut. Selain itu, jalan menuju sungai susah, banyak truck yang tidak mau mengambil pasir atau batu dari sana.


7 comments:

  1. pekerjaan yang sangat berat yaa
    yang belum tentu kita bisa menjalaninya....

    al fatikhah buat embah

    ReplyDelete
  2. Semoga embah mbak Tari disayang Tuhan dan berbahagia di peristirahatannya. Amin

    ReplyDelete
  3. Semoga embah sudah berbahagia di sana mbak, kita doakan aja beliau.

    ReplyDelete
  4. Suratul fatihah buat embahnya mbak tari :)
    tapi memang kisah perjuangan para orangtua dan kakek nenek kita itu penuh liku dan perjuangan ya mbak... sayangnya kesehjateraan lansia masih dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak (kok jadi ngelantur...maaf) :)

    ReplyDelete
  5. Al Fatihah buat Embah..
    Waktu baca pertama saya pikir Embah Kung lho Mbak, tapi kok janda.. penasaran saya baca terus sampai bawah, eh beneran itu Mbah Putri..
    Semoga disana Embah diparingi jalan yang terang dan luas ya Mbak, Amiin :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...