Thursday, February 11, 2016

3 Sejarah Unik Di Desa Banaran, Geger, Madiun

Saya lahir dan tinggal di desa Banaran, Kec. Geger, Kab Madiun. Desa yang cukup damai dan bebas polusi karena lumayan jauh dari Jalan raya. Apalagi rumah saya di pinggiran sungai, ditambah pepohonan rindang dan pohon bambu membuat istana mungil kami semakin sejuk serta nyaman untuk tempat melepas lelah setelah seharian bekerja.

Tapi saya tidak akan membahas tentang rumah saya melainkan tentang 3 sejarah unik di desa Banaran. Kejadiannya sudah berpuluh-puluh tahun atau mungkin ratusan tahun silam tapi sampai saat ini masih dipercayai dan tidak pernah dilanggar.


Ini ke 3 sejarah tersebut:

1. Masjid yang tidak dipakai untuk sholat juma'at.

Di desa saya ada beberapa dusun diantaranya, Banaran, Norame, Sumberdandang, dan beberapa lainnya. Nah di Dusun Banaran ini ada Masjid yang tidak dipakai untuk jum'atan. Mbah Kyainya yang bernama K.H. Qosim kalau hari Jum'at, menjadi imam di Masjid besar yang terletak di dusun Lorkali.

Saya sempat nanya ke emak, kenapa masjid yang itu (orang menyebutnya pondok, bukan masjid) kok tidak dipakai untuk jum'atan. Kata emak  "itu ada sejarahnya". Jaman dahulu kala, pernah dipakai untuk jum'atan, tapi ada kejadian aneh. Ketika dipakai untuk sholat jum'at tiba-tiba pondok seperti ada gempa padahal di tempat lain tidak ada. Spontan semua jamaah panik, dan sejak saat itu pondok tidak pernah dipakai untuk sholat jum'at.
Masjid Baitul Muttaqin, Lorkali, Banaran setelah di renovasi jadi 2 lantai. Tempat untuk sholat Jum'at dan sholat I.

Bahkan ketika ada seseorang yang minta ijin ke mbah Kyai untuk mendirikan masjid, diperbolehkan tapi dengan syarat, tidak boleh untuk jum'atan. Benar saja, Masjid baru itu tidak dipakai untuk jum'atan meskipun lebih ramai  karena digunakan untuk TPQ dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.

2. Tidak ada Keranda.

Di kampung saya tidak ada keranda. Setiap ada orang yang meninggal harus bikin keranda dadakan dari bambu. Katanya dulu pernah ada keranda, tapi ketika ada satu orang yang meninggal maka ada lagi yang meninggal sampai beberapa orang. Makanya tidak ada fasilitas keranda dari kampung.

Tapi beberapa waktu lalu, ada sumbangan keranda dari salah satu warga. Kerandanya didesain tanpa roda sehingga tetap dipikul seperti keranda buatan dari bambu. Mungkin niatnya untuk memudahkan warga, kalau ada yang meninggal tidak perlu susah-susah bikin lagi.

Dan ketika ada kejadian, dalam semalam ada 3 orang yang meninggal, ada saja yang nyeletuk "Itulah akibatnya kalau dikasih keranda".Ternyata masih ada saja yang mempercayai mitos tersebut. Kalau saya sich mikirnya emang sudah tiba waktunya, ndak perlu menyalahkan keranda. :)

3. RT 13 dengan 13 KK (Kepala Keluarga).

Rasanya sulit dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Setiap ada keluarga baru maka akan ada satu keluarga yang meninggalkan RT 13, entah pindah atau meninggal. Sehingga dari dulu sampai sekarang RT 13 hanya beranggotakan 13 KK.

Padahal RT lain hampir tiap taun muncul KK baru. Seperti halnya RT saya yang sekarang sudah hampir 50 KK termasuk keluarga lansia.

Itulah 3 sejarah unik yang ada di kampung saya. Tentu masih banyak sejarah- sejarah unik lainnya yang kadang hanya dianggap sebagai mitos dan tidak harus dipercaya. Kalau saya pribadi sich percaya, selama tidak menyalahi aturan.

Karena saya yakin, segala sesuatu terjadi pasti ada alasannya atau sejarahnya. Jadi tidak ada salahnya untuk menceritakan ke anak cucu kita tentang sejarah-sejarah unik di kampung kelahiran nenek moyang mereka. :)

http://www.melfeyadin.web.id/2016/01/sejarah-sejarah-menarik-di-indonesia.html

13 comments:

  1. Di kampungku juga ga boleh ada keranda Mbak. Kalo ada yg meninggal dibawa pake amben bambu yg ada di rumahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang khan ga punya amben bambu Mbak, jadi harus bikin.

      Delete
  2. weh, aneh-aneh ya mbak. tak carinya masjid itu ah kapan-kapan insya Alloh.

    e kalo mesjid yang ditinggalkan.itu mbak yang di jatisari kalo ga salah, tau sejarahnya ga mbak? saya pernah lewat situ trus mrinding sendiri. mesjidnya gelap berlumut kayaknya gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau kesana mampir ke tempat saya Mbak Diah :).

      Saya malah ndak tahu masjid yang ditinggal itu Mbak

      Delete
  3. Kalo irg meninggal bareng sih biasa. Di desaku jg ada. Tp emang umur sampe situ. Yg masjid sma rt 13 itu yg aneh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau disini meninggal bareng2 itu jadi hal yang luar biasa jiah.

      Delete
  4. Wah, ada ya yang kaya' gitu? Kok aku baru tahu? Antara mitos dan kepercayaan juga sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kepercayaan turun temurun, yang akhirnya jadi semacam mitos Mbak :)

      Delete
  5. jd merinding disko aku bacanya mbak, soalnya sambil bayangin sih, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau udah ga kuat lambaikan tangan aja Mbak. #eh

      Delete
  6. Udah sejak jaman dahulu 13 KK terus mbak...? Aneh ya mbak...

    Ceritanya menarik. Mitos mmng ada dimana-mana ya. Mau diterjang, ragu. Jadi milih amannya aja...

    ReplyDelete
  7. Sy membayangkan rumah ini, ".. Apalagi rumah saya di pinggiran sungai, ditambah pepohonan rindang dan pohon bambu membuat istana mungil kami semakin sejuk serta nyaman untuk tempat melepas lelah setelah seharian bekerja" Kok rasanya pengen tinggal disitu :D

    Mitos dan org Jawa biasanya masih percaya yg 'begituan' ya mbak?
    Klo soal Masjid, bukannya malah bagus klo dipake Jumatan? terus klo hari Jumat, warganya sholat dimana?

    Thanks anyway ya mbak sudah ikutan Giveawayku ^^

    ReplyDelete
  8. Aku lahir neng mBanaran lho nduk RT. 10....tepate Dusun Poyo

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...