Sunday, January 21, 2018

Melahirkan Caesar Lewat HPL 2 minggu

Memiliki riwayat caesar di kehamilan pertama, tapi nekad ingin melahirkan normal di kehamilan kedua, itulah yang saya lakukan 4 bulan lalu. Sehingga, ketika tanda-tanda melahirkan belum ada, padahal sudah lewat HPL (Hari Perkiraan Lahir) yaitu tgl 3 september 2017, saya memilih menunggu dan menunggu. 


Jujur, sebenarnya saya khawatir dengan keadaan janin. Tapi Saya ingin melahirkan normal Ya Allah.... Sehari, dua hari, saya masih tenang dan saya pergi periksa ke dokter tempat biasa saya periksa pada tgl 5 September 2017. "Ini bayinya kok belum masuk panggul ya Bu? Ini masih ada jarak antara janin dan jalan lahir. Ada kemungkinan karena pernah caesar, sehingga jalan lahir bukanya kurang maksimal", begitu kata dokter  sambil menunjukkan hasil USG. 


Mendengar penjelasan dokter, mendadak saya lemes. "Apakah masih ada kemungkinan saya bisa lahiran normal dok?", tanya saya masih berharap. "Kita tunggu saja 3 hari, kalau belum masuk juga kita lakukan tindakan. Karena kalau masih belum masuk panggul tidak berani bu. Ini saya masih beri kesempatan karena berat bayinya kurang dari 3 kilo. Kalau lebih, harus segera dilakukan tindakan, tidak perlu menunggu" begitu kata dokter.

Pulang dari dokter saya mulai panik, berbagai usaha saya lakukan lebih giat. Ngepel sambil jongkok, memperpanjang sujud saat sholat, jongkok setelah sholat, sampai sholat malampun saya lakukan setiap malam (sebelumnya semaunya). Saya bener-bener memohon sama Allah agar diijinkan untuk bisa melahirkan normal.

3 hari pun berlalu, tanda-tanda itu belum juga ada. Saya berusaha rileks tapi tetap saja saya khawatir. Saking khawatirnya, saya sering menangis tanpa sebab. Jujur saya takut, kalau terjadi apa-apa dengan bayi saya. Suami memberi support dan menyerahkan semua keputusan kepada saya. "Kalau memang takut terjadi apa-apa dengan bayi kita, ayo kita periksa. Tapi ya harus siap kalau disuruh caesar lagi", kata suami yang bikin saya nangis makin kenceng. 

HPL pun lewat 1 minggu, saya semakin pasrah dan mulai bisa rileks. "Baiklah, kita tunggu sampai tanda-tanda itu datang baru kita ke rumah sakit. Pokoknya pasrah aja. Kalau memang bayi ini rejeki kita pasti akan baik-baik saja", begitu kata saya untuk menyemangati diri sendiri.

Sementara orang-orang mulai kepo, "kapan lahiran?", "Lho, kok belum lahiran, katanya tgl 3?", "Eh masih belum lahir juga ya?" ada juga yang memberi semangat "sabar, bayi lebih tahu kapan waktunya dia lahir". Mendengar pertanyaan dan penyataan orang-orang, disinilah kepasrahan saya berasa di uji. Saya mulai risih, sampai-sampai saya enggan keluar rumah maupun pegang HP. Karena takut dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Sampai akhirnya, minggu 17 September 2017 sekitar jam 10an, mules-mules itu mulai datang. Saya tidak tahu apakah ini yang dinamakan kontraksi, tapi rasanya persis saat saya mau keguguran tahun 2011 lalu. Semakin lama, mulesnya semakin sering dan semakin sakit. Saya cerita ke emak, dan emakpun membenarkan kalau itu tanda-tanda mau melahirkan.

Akhirnya, sekitar jam 1 siang kami berangkat ke Rumah Sakit pemerintah di Madiun Kota. Saya sengaja memilih ke RS tersebut karena ada saudara yang diberi kesempatan melahirkan normal setelah caesar dan berhasil.

Begitu sampai di RS, suami segera melakukan registrasi dan saya langsung disuruh masuk ruang bersalin. Salah satu perawat meminta saya untuk ganti baju pasien. Setelah selesai ganti baju, perawat lain mulai memasang alat untuk rekam jantung bayi, cek tensi, sambil menanyakan banyak hal seperti kapan nama, anak ke berapa, kapan HPL dll.
gambar dari sini

Tak lama, ada perawat lagi yang cek bagian dalam. "Belum ada pembukaan bu", katanya sambil menanyakan apakah sudah ada lendir atau darah keluar. "Belum", jawab saya. Dan sayapun disuruh menunggu. 

Lumayan lama saya menunggu, dokternya datang untuk melakukan USG dan pemeriksaan lain. "Ini tidak ada tanda-tanda melahirkan lho, kenapa ibu baru ke RS sekarang?", kata dokter. "Nunggu kerasa dulu, saya ingin melahirkan normal, dok", jawab saya.

Dokternya gemes sama saya yang tidak segera ke RS padahal sudah lewat HPL 2 minggu. "Jangan-jangan sampai oktober kalau belum kerasa mau menunggu, ga mau ke RS ya bu?. Ibu ya ndak boleh gitu. Kasihan dedenya khan ga tahu apa-apa?", kata dokter dengan lembut meskipun sebenarnya marah. 

Sebenarnya dokter menyarankan untuk caesar saat itu juga. Tapi saya memohon sama dokternya untuk diberi kesempatan. "dicoba dulu lah dok", kata saya memelas."Ya sudah saya beri kesempatan sampai besok pagi, kalau belum lahir saya operasi ya", jawab dokter memberi harapan.

Malam itu, saya lalui dengan perjuangan yang sangat luar biasa. Rasa sakitnya semakin sering, dari setengah jam menjadi 15 menit dan puncaknya ketika jam 3 dini hari. Rasa sakitnya datang setiap 5 menit sekali dan bolak balik ke kamar mandi buang air kecil. Saya tidak bisa tidur dengan nyenyak, sehingga ketika ada pasien yang melahirkan di kamar sebelah saya mendengar dengan jelas. Saat bayi lahir dengan tangisnya yang melengking, sayapun ikut menangis kejer. Antara sakit dan sedih, kok mereka bisa melahirkan semudah itu. Sedangkan saya?? Ah ya sudah lah.

Malampun berlalu, "Sudah ada lendir keluar bu?", tanya perawat yang kemudian menyuruh saya mandi. Sementara saya mandi, suami diminta mengisi dan menandatangani surat pernyataan untuk melakukan tindakan caesar. Tapi suami tidak menulis apa-apa dan memilih menunggu saya mandi. "Disuruh caesar lagi", kata suami. Saya langsung lemes, setelah merasakan sakit yang luar biasa semalaman, akhirnya disuruh caesar juga. Sempat merasa perjuangan saya sia-sia, tapi tetap bersyukur karena diberi kesempatan merasakan sakitnya mau melahirkan. Karena waktu Alfi dulu tidak sempat merasakannya.


Sekitar jam 6, perawat melakukan persiapan untuk operasi seperti pasang infus, carterter, tes alergi dll. Sedangkan saya masih merasakan sakit yang semakin aduhai saja rasanya. Sementara jadwal operasi saya harus diundur dari jam 8 menjadi jam 9 karena ada pasien hamil diluar kandungan yang keadaannya lebih darurat. 

Sayapun harus menunggu dengan rasa sakit yang luar biasa tersebut. Seorang perawat muda yang melihat saya menangis sambil meringis, membantu saya mengurangi rasa sakit dengan membimbing saya untuk tarik napas lewat hidung, buang lewat mulut. Begitu terus, sampai akhirnya saya di dorong menuju ruang operasi. 

====Bersambung ke Resiko Melahirkan Lewat HPL====

32 comments:

  1. Duh Mbak,, jadi inget seseorang, semoga dilancarkan pula lahirannya,
    Mbak Tarry, aku tunggu next episodenya yaa
    Pengen bacaa, skligus kebawa suasana tegangnyaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa segera melanjutkab. Ini masih mengumpulkan semangat menulis yang sudah lama terkikis karena kehamilan Dan kelahiran anak kedua ini Mbak :)

      Delete
  2. Dokternya sabar banget mau menunggu, padahal pasien lainnya pasti juga banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan pasiennya datang gantian jadi bisa ditangani satu persatu. Hanya saja waktu mau operasi, harus di undur karena ada yang lebih darurat :)

      Delete
  3. ditunggu next episodenya mba Tarry :)

    ReplyDelete
  4. Duh mbak, rasanya ngilu banget. Aku ngeri menghadapi persalinan tujuh bulqn lagi insyaa allah. Drama menjelang lahiran selalu ada aja. Kutunggu sambungan ceritanya yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Mbak, semoga diberi kemudahan kalau sudah tiba waktunya nanti ya

      Delete
  5. Hiks jadi inget pengalamanku lahiran caesar, aku pun anak pertama lahir caesar trus cuma jeda 2,5 tahun, melahirkan anak kedua, dari awal dokter untuk memvonis lahiran caesar karena jarak kelahiran yang dekat

    ReplyDelete
  6. Subhanallah, luar biasa perjuangan mbak tarry. Saya agak ngeri juga dengar nyinyiran orang2 yg suka nanya2 kapan lahiran krena sdh lewat HPL. Semoga ke depannya mbak sehat terus. Ditunggu cerita lanjutannya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sebenarnya nanya sebagai bentuk perhatian mungkin ya tapi kalau terus2an malah bikin stress :)

      Delete
  7. Uwaaaaa
    Kok bersambuuuung
    Nyebelin iiih. Aku baca sambil mules2 mikirin nanti aku gimana.

    Mashaa Allah... Bahkan aku gak tau harus komen gimana, soalnya bersambung sih. Hahaha
    Nanti colek2 ya kalo udah ada lanjutannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya takut kepanjangan jadi dibikin bersambung Mbak. :)

      Delete
  8. Perjuangan seorang ibu untuk melahirkan buah hati. Tulisan tersebut memgingatkan perjuangan isteri saya saat melahirkan si bungsu. Wanita memang luar biasa :)

    ReplyDelete
  9. Terbayang betapa stress nya mbak, hopeless, bingung.
    Salut lah tapi, seorang ibu tetap kuat dalam situasi apapun.

    ReplyDelete
  10. sakitnya luar biasa
    tidak tergambarkan
    hanya wanita yg sedang mau bersalin yg bisa merasakannya
    tapi apapun prosesnya...terbayar dengan jabang bayi yg langsung menghilangkan semua rasa
    btw...penasaran dengan sambungannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul Mbak, sakit bekas lukapun seakan tak Ada apa2nya pokoknya :)

      Delete
  11. Penasaran nunggu endingnya. Tp sy juga pernah mengalami lewat hpl saat anak kedua. Saat itu ketuban sudah keruh dan takut bayinya keracunan dan akhirnya saya SC. Sebenarnya dokternya pro normal, tp memang saya sama sekali ga ada tanda mau lahiran, ga ada kontraksi atau lendir atau apapun

    ReplyDelete
  12. Nyeri...itu lah yang saya rasakan..saat lahiran dulu..lewat hpl ...induksi..akhirnya..menuju ruang operasi

    ReplyDelete
  13. Aaah, rasanya seperti apa ya sakit begitu jelang melahirkan. Sungguh perjuangan seorang ibu memang luar bisa, penasaran dengan lanjutannya mbak, semoga baik2 saja dede dan juga ibunya hihihi.

    ReplyDelete
  14. Memang sih, perjuangan ibu untuk melahirkan terasa berat. Itu juga yang menyebabkan ibuku ga mau lagi melahirkan setelah merasakan betapa sakitnya operasi caesar (ya, gue jadi anak tunggal dan pasti punya ups and downs soal hal tersebut). Dan, entah kenapa ini harus berakhir dengan kata "bersambung", jadi ingin tahu gimana kelanjutannya nih.

    ReplyDelete
  15. Perjuangan Ibu tanpa batas ya Mbak. Selamat atas kelahirannya dan semuanya terlewati dengan bahagia
    Kalo si anak diceritakan perjuangannya pasti merasakan bagaimana bahagianya punya ibu super. Mari menunggu kelanjutan ceritanya

    ReplyDelete
  16. Subhanallah... seperti itulah perjuangan seorang ibu saat melahirkan anak-anaknya ya Mbak.. saya mengalami kontraksi yang cukup lama sekali waktu persalinan anak kedua. Hampir dua hari dua malam. Habis SC juga anak pertama. Alhamdulillah yg kedua bisa normal, tapi kontraksinya aduhai banget :)

    *kok malah ikutan curhat :D

    ReplyDelete
  17. Dokternya harus sabar menunggu, karena kan pasien berhak mengambil keputusan...meskipun ada riwayat medis yang hanya dokter yang bisa baca.

    Tapi pendapatku pribadi,
    in syaa Allah anak sudah ada rejekinya masing-masing.
    Termasuk saat lahir ke dunia ini.

    Jangan menyerah mbaaa...

    ((ini komen, anaknya sudah lahir yaa, mba...^^ laafff))

    ReplyDelete
  18. selalu bergidik saat membaca pengalaman teman-teman yang melahirkan sesar, dua jempol deh untuk teman-teman, saya membayangkan aja ngeri. makanya suka sedih kalo ada yang bilang ibu yang lahiran sesar itu bukan ibu sesungguhnya :(

    ReplyDelete
  19. Menunggu sambungannya, luar biasa perjuanganmu mba.

    ReplyDelete
  20. Mbak tarry, aku langsung meluncur ke postingan lanjutannya yak....

    ReplyDelete
  21. gpp Mbak, yg penting lahiran selamat, semua selamat. Mbak udah berjuang utk normal. Tapi Allah lebih tahu yg terbaik utk Mbak dan Adek Bayi :*

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungannya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...